Gangguan penglihatan merupakan masalah kesehatan global yang berdampak signifikan pada kualitas hidup jutaan orang. Menurut World Health Organization (WHO) dalam laporan Vision 2020, sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan lebih dari 1 miliar di antaranya bisa dicegah atau belum ditangani secara memadai. Di tengah perkembangan teknologi medis, prosedur LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis) menjadi salah satu solusi populer untuk mengoreksi masalah refraksi mata seperti miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Di Indonesia, minat terhadap prosedur ini meningkat pesat. Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa pusat LASIK ternama di Jakarta dan Surabaya, terjadi peningkatan permintaan LASIK sebesar 30–40% dalam lima tahun terakhir, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata dan kemajuan teknologi laser.
Namun, pertanyaan krusial tetap ada: kapan waktu terbaik untuk menjalani operasi ini? Artikel ini akan mengupas secara mendalam kapan momen paling ideal untuk menjalani LASIK, berdasarkan faktor usia, kondisi mata, stabilitas refraksi, serta kesiapan finansial dan gaya hidup Anda.
Apa Itu LASIK dan Bagaimana Cara Kerjanya?
LASIK adalah prosedur bedah refraktif yang menggunakan teknologi laser untuk membentuk ulang kornea agar cahaya yang masuk ke mata dapat difokuskan secara tepat ke retina. Dengan demikian, penglihatan menjadi lebih tajam tanpa bantuan alat korektif seperti kacamata atau lensa kontak.
Prosedur ini menggunakan dua jenis laser: femtosecond laser untuk membuat flap (lapisan tipis di permukaan kornea) dan excimer laser untuk mengikis lapisan dalam kornea guna memperbaiki bentuknya. Seluruh proses biasanya memakan waktu kurang dari 30 menit, dan pasien umumnya dapat melihat lebih jelas dalam waktu 24 jam setelah tindakan.
Siapa yang Menjadi Kandidat Ideal untuk LASIK?
Berdasarkan pedoman dari American Academy of Ophthalmology dan Refractive Surgery Alliance, berikut kriteria umum kandidat ideal LASIK Mata:
- Berusia minimal 18 tahun, namun usia optimal adalah di atas 21 tahun dengan refraksi stabil setidaknya 12 bulan.
- Mata sehat secara umum, tanpa kondisi seperti keratoconus, glaukoma, atau infeksi aktif.
- Ketebalan kornea mencukupi, karena prosedur ini membutuhkan jaringan kornea yang cukup untuk dibentuk ulang.
- Tidak sedang hamil atau menyusui, sebab fluktuasi hormon dapat memengaruhi hasil koreksi.
- Tidak memiliki penyakit autoimun atau diabetes yang tidak terkontrol.
Penting untuk menjalani serangkaian pemeriksaan seperti topografi kornea, pengukuran ketebalan kornea, dan analisis refraksi secara menyeluruh sebelum prosedur.
Kapan Waktu Terbaik Menjalani LASIK?

1. Setelah Usia dan Refraksi Stabil (Usia 21–40 Tahun)
Masa usia 21 hingga 40 tahun merupakan waktu yang paling disarankan untuk menjalani LASIK. Pada rentang usia ini, stabilitas refraksi biasanya sudah tercapai. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Cataract and Refractive Surgery (2019), hasil LASIK paling optimal jika dilakukan saat tidak ada perubahan signifikan dalam ukuran kacamata atau lensa kontak selama 1–2 tahun.
Stabilitas ini penting karena jika dilakukan terlalu dini, risiko regresi (kembali ke refraksi semula) lebih besar.
2. Sebelum Terjadinya Presbiopia (Usia 40-an ke Atas)
Presbiopia adalah kondisi penurunan akomodasi lensa mata yang menyebabkan kesulitan melihat dekat, biasanya muncul setelah usia 40 tahun. LASIK tidak dirancang untuk memperbaiki presbiopia, meskipun ada teknik seperti “monovision LASIK” yang dapat digunakan (satu mata dikoreksi untuk jauh, satu untuk dekat).
Jika Anda berada di awal usia 40-an dan belum mengalami presbiopia, masih memungkinkan mendapatkan manfaat optimal dari LASIK. Namun, jika sudah mengalami presbiopia, kemungkinan tetap membutuhkan kacamata baca.
3. Saat Alat Bantu Penglihatan Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
Bagi Anda yang bekerja di lapangan, sering berolahraga, atau berada di lingkungan yang tidak mendukung penggunaan kacamata/lensa kontak, LASIK bisa menjadi solusi. Banyak pasien dari kalangan atlet, tenaga medis, dan profesional kreatif melaporkan peningkatan efisiensi dan kenyamanan setelah LASIK.
Beberapa studi observasional dari klinik LASIK di Asia menunjukkan bahwa 85% pasien mengalami peningkatan produktivitas setelah operasi, terutama mereka yang bekerja di bidang yang menuntut ketajaman penglihatan.
4. Saat Tidak Sedang Mengalami Perubahan Hormon
Hormon, terutama selama kehamilan dan menyusui, memengaruhi ketebalan kornea dan produksi air mata. Oleh karena itu, LASIK tidak disarankan selama masa tersebut. Disarankan menunggu 3–6 bulan setelah menyusui berhenti untuk memastikan penglihatan kembali stabil sebelum melakukan evaluasi ulang.
5. Saat Anda Sudah Siap Secara Finansial dan Psikologis
Biaya LASIK di Indonesia berkisar antara Rp 14 juta hingga Rp 30 juta per mata tergantung teknologi dan rumah sakit. Selain itu, Anda perlu menyediakan waktu pemulihan selama beberapa hari pascaoperasi untuk menghindari aktivitas berat, termasuk berenang atau menggunakan riasan mata.
Pertimbangkan menjalani LASIK pada saat libur panjang atau cuti tahunan. Beberapa klinik bahkan menawarkan skema cicilan atau diskon berkala.
Risiko dan Efek Samping LASIK
Meski tingkat keberhasilannya tinggi (sekitar 96% pasien mencapai penglihatan 20/20 atau lebih baik), tetap ada risiko, antara lain:
- Mata kering (terjadi pada 30–50% pasien dalam 6 bulan pertama)
- Silau atau halo di malam hari
- Infeksi atau komplikasi flap
- Koreksi tidak sempurna, yang mungkin memerlukan prosedur lanjutan
Dengan pemilihan klinik dan tenaga medis berpengalaman, serta penggunaan teknologi laser generasi terbaru seperti Contoura Vision atau Wavefront LASIK, risiko dapat ditekan seminimal mungkin.
Apa yang Terjadi Jika LASIK Ditunda?
Menunda LASIK tidak selalu buruk, namun jika terlalu lama, kondisi mata bisa berubah. Misalnya, presbiopia dapat muncul sehingga hasil LASIK tidak seoptimal jika dilakukan lebih awal. Selain itu, penggunaan lensa kontak jangka panjang dapat menyebabkan perubahan bentuk kornea (warpage) yang menyulitkan pengukuran praoperasi.
Namun, jika saat ini belum siap secara keuangan atau kondisi medis belum memungkinkan, penting untuk menjaga kesehatan mata dengan rutin memeriksakan penglihatan dan menghindari penggunaan alat bantu secara berlebihan.
Waktu terbaik menjalani LASIK sangat bergantung pada stabilitas refraksi, usia, gaya hidup, dan kesiapan secara menyeluruh. Usia 21 hingga 40 tahun merupakan periode paling ideal untuk memperoleh hasil terbaik, dengan syarat kondisi mata stabil dan bebas dari penyakit mata aktif. Prosedur ini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi Anda yang ingin bebas dari ketergantungan kacamata atau lensa kontak.
Sebelum mengambil keputusan, pastikan Anda menjalani evaluasi komprehensif di klinik spesialis mata terpercaya. Diskusikan segala risiko dan harapan dengan dokter mata agar bisa merencanakan waktu yang paling tepat dan aman.